PAMERAN DARING DISEMINASI ONLINE KKN 88 UTM

PRODUK UNGGULAN KKN 88 UTM GENAP 2018
DESA BELUK KENEK, AMBUNTEN, SUMENEP

PRODUK KERIPIK CIPY CHIP :



PRODUK MENCEM (PERMEN ACEM) :



PRODUK SIRAM (SIRUP ASAM) :



Antusiasme Ibu-Ibu PKK Desa Beluk Kenek dalam acara Pelatihan & Demo produk Olahan Berbahan dasar asem dan singkong



Asem dan singkong merupakan dua jenis tanaman yang banyak ditemui di Indonesia, termasuk di desa Beluk Kenek, kecamatan Ambunten sumenep. Memiliki jenis tanah Aluvial dan kandungan air yang tidak banyak pada musim kemarau, membuat desa beluk kenek tidak cocok jika ditanami padi sehingga masyarakat lebih memilih menanam singkong yang tidak membutuhkan banyak air dan perawatan yang rumit serta asem yang dipercaya memiliki vitamin yang baik untuk tubuh. Selain singkong sebagai pengganti beras untuk makanan pokok, singkong juga bisa dijadikan berbagai macam olahan seperti krupuk singkong atau masyarakat beluk kenek disebut kepeng. Sedangkan asem dijual kering pada pengepul seharga Rp.6.500,-/kg. melihat potensi pasar untuk kedua tumbuhan tersebut KKN 88 melakukan inovasi dan pengembangan terhadap keduanya.





Melalui Ibu-Ibu PKK desa Beluk Kenek, KKN 88 Melakukan pelatihan dan demo produk olahan singkong dengan brand chip ichip dan Mencem untuk olahan permen asem . Acara ini tentu saja mengundang banyak keingin tahuan ibu-ibu desa beluk kenek yang tertarik untuk terlibat dalam kegiatan ekonomi kreatif yang diharapkan bisa menambah penghasilan masyarakat beluk kenek. Mernurut Kepala Desa Beluk Kenek, Bapak Subahri “melalui pelatihan ini diharapkan masyarakat desa beluk kenek, terutama ibu-ibu bisa secara aktif terlibat dalam kegiatan ekonomi kreatif sehingga mampu menambah pendapatan masyarakat “.




Sebelumnya produk olahan dari singkong yang disebut kepeng ini hanya dijual secara mentah dengan harga Rp.15.000 untuk 100 biji tanpa brand yang bisa membuat produk ini dikenal secara luas. Melalui pelatihan ini, kepeng dapat diolah kembali dengan diberikan beberapa rasa yang saat ini sedang hits seperti BBQ, Balado, keju dan original. Sedangkan Asem yang menjadi bahan baku permen juga memiliki ciri khas perpaduan asem dan jahe yang unik sehingga tidak meninggalkan rasa yang terlalu asem bagi penikmatnya. nilai plus dari produk kepeng yang diolah kembali ataupun asem yang di jadikan permen adalah packaging yang didesain menarik, dengan kemasan yang unik ini diharapkan mampu menempus pasar yang lebih besar, misalnya toko oleh-oleh khas sumenep atapun ritail-ritail disekitar sumenep.

PENGOLAHAN KERIPIK KEPENG DESA BELUK KENEK



Sebagian besar masyarakat di desa Beluk Kenek berprofesi sebagai petani. Salah satu potensi alam yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat Beluk Kenek sebagai petani adalah lahan yang cukup luas yang dapat ditanami oleh tanaman seperti padi, singkong, tembakau, terung, cabai, jagung, dan lain-lainnya. Beluk Kenek merupakan daerah perbukitan yang terdapat di Kecamatan Ambunten. Lahan disini merupakan lahan kering yang hanya dapat ditanami padi dan jagung saat musim-musim penghujan saja. Maka dari itu, antisipasi masyarakat untuk memenuhi kebutuhan hidup pada saat musim kemarau adalah dengan menanam singkong. Tanaman singkong tidak hanya di tanam waktu musim kemarau saja, pada saat musim penghujan pun di pekarangan atau tegal, masyarakat disini biasanya memanfaatkan lahan mereka untuk ditanami singkong.
Kebanyakan hasil panen dari tanaman singkong di manfaatkan oleh beberapa masyarakat untuk diolah menjadi kerupuk. Masyarakat disini lebih mengenal dengan nama kerupuk kepeng. Kerupuk kepeng diusahakan oleh beberapa masyarakat secara pribadi. Tidak sumua singkong dapat digunakan untuk membuat kerupuk kepeng. Hanya singkong kuning yang dapat digunakan untuk membuat kerupuk kepeng. Apabila pembuatan kerupuk kepeng dengan menggunakan singkong putih, hasilnya adonan tersebut tidak dapat dibentuk.
Kerupuk kepeng berasal dari singkong yang dihaluskan dicampur dengan tepung kanji dan daun bawang yang sudah dicincang halus. Adonan tersebut di campur sampai merata dengan menambahkan bawang putih yang sudah di haluskan. Setelah adonan selesai dibuat, adonan tersebut dibentuk dengan menggunakan cetakan piring. Sehingga akan menghasilkan bentuki adonan yang bulat dan tipis. Setelah itu, adonan di kukus kurang lebih selama tiga menit. Apabila pengukusan dilakukan cukup lama, hasilnya adonan kerupuk tersebut tidak bisa dilepas dari cetakan. Sehingga membutuhkan tingkat kematangan kerupuk kepeng yang optimum.
Selesai di kukus, kerupuk kepeng tersebut di lepaskan dari cetakan, dan di tata rapi di wadah pengeringan. Pengeringan dilakukan dengan memanfaatkan sinar matahari selama satu hari. Jika pada saat musim penghujan, pengeringan bisa dilakukan selama 2-3 hari. Setelah kering setiap100 keping kerupuk kepeng ditali dengan menggunakan tali rafia dan di masukkan kedalam karung. Kerupuk kepeng sudah siap untuk diperjualbelikan.
Pengusaha kerupuk kepeng disini, menjual kerupuk kepeng mentah kering per 100 keping kerupuk kepeng dengan harga Rp. 15.000 rupiah. Persediaan kerupuk kepeng tidak setiap hari ada, namun harus melakukan pemesanan terlebih dahulu. Ketika sudah terdapat pemesanan  oleh calon pembeli, pengusaha kerupuk kepeng baru membuatkan untuk memenuhi permintaan. Jika bahan baku singkong tidak ditemukan seperti pada saat musim kemarau seperti ini, pengusaha kerupuk kepeng membeli singkong di pasaran. 

Kegiatan Belajar Mengajar di SDN Beluk Kenek I Ambunten


Profil Sekolah Dasar Negeri Beluk Kenek I Ambunten



            Sekolah Dasar Negeri (SDN) Beluk Kenek I terletak di Jalan Raya Beluk Kenek Nomor 3 Desa Beluk Kenek, Kecamatan Ambunten, Kabupaten Sumenep, Provinsi Jawa Timur. Sekolah dasar ini merupakan sekolah yang berada di tepi jalan raya sehingga cukup alternatif untuk dijangkau karena karena berada di jalur lalu lintas yang cukup padat terutama pada jam keberangkatan dan jam pulang anak sekolah dan pegawai.
            SDN Beluk Kenek I ini berdiri pada tahun sekitar 1975. Sebelumnya di Desa Beluk Kenek ini memiliki 2 Sekolah Dasar Negeri, yaitu SDN Beluk Kenek I dan SDN Beluk Kenek II. Namun karena banyaknya anak yang sekolah di MI (Madrasah Ibtidaiyah), maka SDN Beluk Kenek II akhirnya ditutup karena kurangnya peserta didik. Kurangnya peserta didik atau bahkan bisa dibilang tidak adanya peserta didik di SDN Beluk Kenek II ini karena banyak warga yang menginginkan anaknya untuk belajar di madrasah bukan di sekolah dasar umum karena banyaknya materi tentang keagamaan islam yang ada di sekolah madrasah. Sehingga SDN Beluk Kenek II ini akhirnya ditutup.


            SDN Beluk Kenek I saat ini memiliki jumlah murid sebanyak 75 siswa dan siswi. Jumlah pengajar (guru) saat ini masih sebanyak 9 orang dan 1 penjaga sekolah. Dengan jumlah guru yang sangat terbatas tersebut, pihak kepala sekolah menginginkan agar guru tetap kompeten dalam mendidik dan mengajarkan kepada muridnya agar para siswa dan siswi mendapatkan ilmu yang bermanfaat dan kalau  bisa membuat para siswa bisa juara di ajang perlombaan yang bergengsi.

            Banyak fasilitas-fasilitas atau sarana dan prasaran yang masih kurang memadai di sekolah ini. Misalnya yaitu: tidak adanya tempat parkir sepeda yang memadai, tempat perpusatakaan, ruang guru yang kurang efisien dan lain sebagainya. Kurangnya sarana dan prasarana tersebut karena kurangnya dana untuk  bisa mebangaun dan mengembangkan sarana dan prasarana yang dibutuhkan. Sehingga pihak sekoilah menginginkan agar pihak pemerintah bisa lebih banyak lagi dalam memberi bantuan kepada sekolahan.


            Meskipun dengan keterbatasan jumlah guru dan juga kurang memadainya sarana dan prasarana yang ada, banyak siswa dan siswi di SDN Beluk Kenek I ini menorehkan juara. Baik juara di tingkat kecamatan maupun ditingkat kabupaten. Adapaun rincian sebagian prstasi yang pernah diraih yaitu, Juara 2 lomba menyanyi solo tingkat kecamatan, juara 2 tari tradisional tingkat kecamatan, juara 1 Pesta Siaga tingkat kecamatan dan juara harapan 1 lomba menyanyi solo tingkat kabupaten. Untuk kedepannya, pihak sekolah menginginkan agar para siswa tetap bisa menorehkan banyak prestasi agar bisa mengembangkan dan memajukan sekolah ini. 


Proses Belajar Mengajar


            Proses belajar mengajar di SDN Beluk Kenek I tidaklah jauh berbeda dengan sekolah-sekolah dasar yang lainnya.  Dalam kegiatan proses belajar mengajar di SDN Beluk Kenek I, siswa dan siswi harus berangkat sebelum jam 07.00 WIB karena jam 07.00 kegiatan belajar sudah harus dimulai. Selama menjalankan program mengajar di SDN Beluk Kenek I, mahasiswa KKN Universitas Trunojoyo Madura kelompok 88 juga harus berangkat ke sekolah sebelum jam 07.00 WIB.

            Mahasiswa KKN memberikan pembelajaran dengan berbagai model, seperti pemberian materi secara langsung maupun dengan diselingi permainan-permainan (game) agar tercipta suasana kelas yang menyenangkan nanun tetap kondusif. Mahasiswa KKN 88 UTM ini hanya bisa melakukan program pendidikan di SDN Beluk Kenek I selama 3 hari dalam seminggu, yaitu hari Senin, Selasa dan Rabu. Selain belajar mengajar di kelas, mahasiswa juga melatih baris-berbaris kepada anak-anak untuk persiapan agustusan.
           

Sosialisasi Penanaman Tanaman Sayuran dengan Media Botol Bekas di Pekarangan Desa Beluk Kenek, Ambunten, Sumenep


        Tanaman sayuran merupakan salah satu jenis tanaman yang sangat penting untuk dibudidayakan karena merupakan salah satu kebutuhan pokok makan dari manusia. Dengan terus menanam sayuran, berarti telah meningkatkan jumlah pasokan untuk memenuhi kebutuhan akan makan sayurannya sendiri dan juga masyarakat. Jika kebanyakan masyarakat menanam atau membudidayakan tanaman sayuran di lahan, namun kali ini kelompok 88 KKN Tematik 2018 Universitas Trunojoyo Madura mencoba untuk hal yang baru, yaitu menanam tanaman sayuran bukan di lahan melainkan dengan menggunakan botol bekas sebagai tempat media tumbuh dari tanaman sayuran itu sendiri.



            Sosialisasi ini dilakukan pada tanggal 4 Agustus 2018 di Balai Desa Beluk Kenek, Kecamatan Ambunten, Kabupaten Sumenep. Adapun pesertanya yaitu dari ibu-ibu Kelompok Wanita Tani (KWT) dari Desa Beluk Kenek. Hal ini juga didampingi oleh Bapak Eko selaku penyuluh lapang di Desa Beluk Kenek dari Balai Penyuluh Pertanian Kecamatan Ambunten Kabupaten Sumenep.
            Pemilihan media botol bekas sebagai tempat tumbuh tanaman sayuran adalah karena semakin banyaknya sampah botol bekas yang kurang begitu dimanfaatkan. Sehingga mahasiswa KKN 88 Tematik 2018 Universitas Trunojoyo Madura ingin memanfaatkan botol bekas sebagai tempat tumbuh dari tanaman sayuran. Selain itu, dengan memanfaatkan botol bekas, maka juga ikut andil dalam mengelola sampah agar lebih bermanfaat dan ramah lingkungan. Dengan penggunaan botol bekas ini, masyarakat  juga bisa lebih hemat biaya dan juga lahan dalam membudidayakan tanaman sayuran di pekarangan. Jika ditata dan dikelola dengan baik, maka juga akan menambah nilai keindahan jika hasilnya diletakkan di pekarangan.


             Alat dan bahan dalam penanaman tanaman sayuran dengan menggunakan media botol bekas sebagai tempat tumbuh juga sangatlah mudah untuk didapatkan sehingga masyarakat tidak akan sulit dan kesusahan dalam mencari alat dan bahan yang dibutuhkan  untuk menanam tanaman sayuran dengan menggunakan media botol bekas ini. Adapun alat dan bahan yang dibutuhkan adalah botol bekas (untuk tempat tumbuh tanaman), nampan bekas (untuk persemaian bibit), tanah lokal, skam kering, arang sekam basah dan kering, pupuk kompos dan pupuk kandang.
            Adapun cara sosialisai kepada ibu-ibu Kelompok Wanita Tani (KWT) adalah dengan mempraktikkan langsung tentang cara-cara dan alat-alat yang dibutuhkan dalam menanam tanaman sayuran dengan media botol bekas di pekarangan. Setelah mempraktikkan langsung, masyarakat diminta untuk mencoba mempraktikkan kembali tentang menanam tanaman sayuran mulai dari persemaian biji di nampan hingga menanam langsung di media botol bekas.

ASEMNYA BELUK KENEK, AMBUNTEN


Banyak sekali potensi alam yang terdapat di Desa Beluk Kenek, Ambunten yang dimanfaatkan masyarakat sebagai sumber penghasilan. Mayoritas masyarakat yang bekerja sebagai petani dan nelayan ini tidak hanya terpaku pada satu pekerjaan. Masyrakat yang ulet dengan memanfaatkan potensi alam yang ada salah satunya pohon asem yang banyak sekali ditemui sepanjang jalan Desa Beluk Kenek. Sembari masyarakat pergi ke Sawah pulangnya mereka manfaatkan untuk mencari buah asem yang jatuh berserakan dengan jumlah yang cukup banyak pada tiap pohonnya.
Buah asem merupakan tanaman herbal yang banyak sekali manfaatnya untuk kesehatan dan kecantikan. Sejak dulu nenek moyang kita memanfaatkan buah asem sebagai bumbu dapur untuk tambahan rasa asam pada sayur asam dan membuat minuman kunyit asam. Pohon asem berasal dari Afrika nama latin Tamarindus Indica, Linn di Indonesia pohon asem berfungsi sebagai pohon perindang yang sering kita jumpai di pinggir jalan. Begitu pun di Desa Beluk Kenek pohon asem bisa dijumpai sepanjang jalan dan yang paling banyak di Dusun Bulangan.
Daging buah asem mengandung banyak jenis asam diantaranya asam tetrat, asam sitrat, malat dan asam asetat. Jenis asam tersebut berfungsi untuk melancarkan pencernaan dan peredaran darah. Daun asem yang mengandung flavonoid bisa menyembuhkan radang dan penghilang rasa sakit. Air rebusan buah asem ditambahkan kunyit, temulak dapat  dijadikan ramuan herbal untuk menyembuhkan penyakit disentri, diet dan sariawan. Manfaat untuk kecantikan buah asem yang sudah dikupas dan dipisahkan dengan biji menjadi adonan bisa dijadikan lulur untuk mencerahkan kulit.
Masyarakat beluk kenek yang dikenal pekerja keras dan ulet pulang dari sawah tak lantas beristirahat melainkan, mengupas buah asem yang sudah kering. Biasanya masyarakat menjual buah asem sudah dikupas kulitnya dijual pada pengepul. Buah asem dijual masih dengan bijinya dengan harga Rp. 6000/kg. Jika musim penghujan 1 hari sampai 2 hari bisa menghasilkan 1 ton untuk satu pengepul. Jika sudah terkumpul banyak maka akan diambil dijemput oleh truk yang akan diolah di industri besar.
Untuk memanfaatkan buah asem yang ada di Desa Beluk Kenek ini dengan meningkatkan nilai tambah pada buah asem maka dimanfaatkan sebagai permen asem dan sirup asem. Permen asem sudah pernah ada, namun saat ini sudah jarang ditemui. Di era yang serba konsumen membeli produk tidak hanya melihat khasiat yang terkandung dari produk itu melainkan melihat dari estetika dari kemasan dan kemudahan untuk memperolehnya.
Bahan baku, alat dan proses pembuatan yang mudah merupakan salah satu alasan KKN88 Universitas Trunojoyo Madura memanfaatkan buah asem sebagai permen asem. Pengembangan produk dari aspek kemasan, karena kemasan memiliki daya tarik yang paling kuat untuk konsumen. Kemasan primer yang sangat menarik dengan diikat pada kedua ujung dan ditambah lagi kemasan sekunder plastik standing pouch semakin memberikan daya tarik yang lebih untuk konsumen. Permen asem ini dapat dikonsumsi mulai dari anak kecil sampai orang dewasa. Permen asem ini buat tanpa menggunakan bahan pengawet, meskipun demikian permen asem ini bertahan cukup lama asal disimpan ditempat yang kering dan tidak lembap karena sifat asem itu sendiri yang mampu bertahan lama dan gula yang merupakan salah satu bahan pengawet alami.

Profil Madrasah Ibtidaiyah “An-Nur” Desa Beluk Kenek, Kecamatan Ambunten, Kabupaten Sumenep



Madrasah Ibtidaiyah (MI) “An-Nur” merupakan sekolah tingkat dasar (setara SD) yang ada di Dusun Coangkak Desa Beluk Kenek, Kecamatan Ambunten, Kabupaten Sumenep Madura.  Madrasah ini merupakan salah satu lembaga pendidikan di bawah naungan Yayasan An-Nur yang diketuai oleh Bapak Rusdi. Madrasah ini didirikan untuk meningkatkan dan mengembangkan pendidikan anak-anak agar bisa mengemban pendidikan formal. Meskipun madrasah ini berbasis keagamaan islam, namun sekolah ini juga mengedepankan ilmu-ilmu umum.
Madrasah ini pada mulanya merupakan sebuah lembaga pendidikan islam (diniyah) yang di dalamnya berfungsi sebagai tempat untuk mengajarkan ilmu-ilmu agama islam kepada anak-anak yang berada di Dusun Congkak. Anak-anak biasanya menempuh pendidikan formal di luar Dusun Congkak. Karena dirasa cukup jauh dari tempat tinggal banyak warga yang ingin ada sekolah tingkat dasar (SD) yang berada di Dusun Congkak. Atas alasan tersebut, maka selanjutnya madrasah diniyah ini diubah statusnya menjadi Madrasah Ibtidaiyah yang merupakan lembaga pendidikan formal yang setara dengan SD yang bernama MI “An-Nur”.
Madrasah Ibtidaiyah “An-Nur” mulai didirikan (mulai berstatus sebagai lembaga pendidikan formal) pada tahun 2006. Madrasah Ibtidaiyah ini dikepalai oleh Bapak Abdus Samad. Bapak Abdus Samad merupakan salah satu warga yang tinggal di Desa Beluk Kenek yang sangat antusias dalam pengadaan sebuah lembaga pendidikan formal dasar setingkat SD agar anak-anak tidak terlalu jauh ketika ingin sekolah. Meskipun secara infrastruktur sekolah masih sangat kurang, beliau mengiunginkan agar masyrakat tetap mau dan peduli untuk tetap menyekolahkan anaknya di yayasan ini agar tetap berkembang kedapannya.
Banyak infrastruktur yang masih sangat kurang memadai di sekolah ini. Mulai dari tempat parkir,kamar mandi, papan tulis, bangku sekolah yang sudah mulai rusak hingga ruang guru yang kurang kondusif dan sangat tidak memadai untuk tempat administrasi para guru. Sebagai kepala sekolah, Bapak Samad menginginkan agar lebih banyak bantuan dari pemerintah lagi untuk mengembangkan sarana dan prasarana yang ada di sekolah ini.
Meskipun secara infrastruktur masih sangat kurang, namun bukan berarti sekolah ini tidak pernah mendapatkan juara dari siswa dan siswinya. Sekolah ini pernah menjadi delegasi kecamatan dan kabupaten sebagai peserta lomba Olimpiade Sains tingakt SD bahkan pernah juga mendapat juara 1 tingkat kecamatan.